IDHAN LUBIS & KELUARGA

Dalam masa peralihan kekuasaan yang penuh konflik di awal tahun 1949, pada tanggal 19 April lahir Idhan Dhanvantary Lubis (Idhan Lubis) di kota Yogyakarta dari kandungan Kusrahaeni turunan Jawa dan berayahkan Bachtar Lubis berdarah Mandailing.

Idhan Lubis sebagaimana panggilan akrabnya, tumbuh dewasa di Jakarta sebagai anak kedua dari keluarga wiraswasta, adik dari Idhat Lubis (pendiri Indonesian Green Ranger), kakak dari Piet Bachtari Lubis dan Poeng Wiyata Indra Lubis, dan juga keponakan dari seorang jurnalis dan pengarang terkenal di Indonesia yaitu Mochtar Lubis.

Ditempa oleh dua kultur, kehalusan pekerti seorang ibu dan keberanian yang lugas seorang bapak membentuk sosok intelektual tegas dengan keakraban emosional, sehingga menjadikannya dirinya dilibatkan dalam banyak aktifitas, baik kegiatan akademis maupun ekstra kampus, salah satunya adalah Kelompok Pecinta Alam.

Idhan Lubis

" Aku tidak pernah berniat
menaklukkan gunung !
Mendaki gunung hanyalah
bagian kecil dari pengabdian...
... pengabdianku kepada
YANG MAHA KUASA !"

Idhan Lubis
MENGAPA IDHAN KE SEMERU ?

Mendaki Puncak Gunung Semeru adalah obsesi yang dipicu oleh bacaan favorit masa kecilnya, yakni hikayat Mahabaratha, terutama episode akhir... yaitu saat perang Bharata, dimana Pandawa Lima pulang ke Swarga Loka melalui Arcopodo sebuah gerbang yang dikawal Dewa Kembar, pintu masuk surga dilangit Mahameru.

Saat segalanya dimungkinkan, di pertengahan tahun 1968 Idhan bersahabat dengan Herman O Lantang seorang anggota Mapala Universitas Indonesia. Dengan Herman itulah Idhan diajak untuk mendaki gunung Semeru bersama-sama dengan anggota Mapala UI salah satunya Soe Hok Gie. Saat pendakian itu Idhan baru berusia 20 tahun dan masih menjadi mahasiswa di Universitas Tarumanegara

Tak dinyana... pendakian yang direncanakan dengan landasan pemikiran emosional & intelektual, merupakan capaian sakral tertinggi dan terakhir dari seorang anak manusia bernama Idhan Lubis. Tepat pada tanggal 16 Desember 1969, dia melangkah bersama Soe Hok Gie melewati gerbang langit Mahameru... pergi meninggalkan kita selamanya.

Pernah aku dan kau
sama-sama daki gunung-gunung tinggi
hampir kaki kita patah-patah
nafas kita putus-putus
tudjuan esa, tudjuan satu:
Pengabdian dan pengabdian kepada....
...Jang Maha Kuasa ...

Idhan Lubis
Idhan Lubis
PUISI PERPISAHAN MENJELANG MAUT MAHAMERU

Kompas, 24 Desember 1969

IDHAN DHANVANTARI LUBIS, pemuda tampan yang tenang dan serius itu seakan-akan telah mempunyai firasat akan ajalnya yang sudah dekat. Sebelum melakukan perjalanan mendaki puncak gunung Semeru, almarhum Idhan Lubis pergi ke Bandung. Selain mengucapkan ”Selamat Lebaran”, Idhan Lubis juga minta diri, menyampaikan salam ’berpamitan’ kepada semua keluarganya di Bandung itu. Hal semacam itu tak pernah dilakukan Idhan sebelumnya, bahkan orangtua Idhan biasanya jarang diberitahukan bila akan mendaki gunung.

Hari-hari menjelang keberangkatan ke Jawa Timur tanggal 13 Desember, jalan telah dipenuhi ’isyarat-isyarat’ Idhan tentang puncak Semeru tersebut. Sampai-sampai dalam tidur pun, Idhan mengigau tentang gunung Semeru. Idhan menyebut ’Rocopodo’ suatu nama tempat di puncak gunung Semeru itu dalam mimpinya. Hal ini didengar oleh saudaranya suatu malam dengan keheranan.

Sehari-hari, Idhan tak hentinya menulis-nulis dan mencoret nama ’Mahameru’, ’puncak Semeru’, dan sebagainya dimana saja ada kesempatan.

Pada suatu petang tanggal 8 Desember 1969 di rumahnya di Polonia, Idhan Lubis menulis sebuah sajak yang ditujukan kepada sahabatnya Herman O Lantang. Puisi Idhan Lubis yang ditulisnya delapan hari sebelum meninggal dunia itu berjudul ”Djika Berpisah”, yang selengkapnya sebagai berikut:

Pro: Herman O. Lantang
Djika Berpisah

Di sini kita bertemu, satu irama
di antara wadjah2 perkasa...
tergores duka dan nestapa,
tiada putus asa
tudjuan esa puntjak mendjulang di sana

Bersama djatuh dan bangun
di bawah langit biru pusaka...
antara dua samudra...
Bersama harapanku djuga kau
satu nafas
kita jang terhempas
pengabdian... dan... kebebasan...

Bila kita berpisah
kemana kau aku tak tahu sahabat
atau turuti kelok2 djalan
atau tinggalkan kota penuh merah flamboyan
hanja bila kau lupa
ingat...

Pernah aku dan kau
sama-sama daki gunung-gunung tinggi
hampir kaki kita patah-patah
nafas kita putus-putus
tudjuan esa, tudjuan satu:
Pengabdian dan pengabdian kepada....
...Jang Maha Kuasa ...

Dari : Idhan Lubis
Polonia, 8 Desember 1969

"Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Mereka jumpai jasad kedua tersebut sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Mereka semua diam dan sedih.

Plakat In Memoriam Soe Hok Gie dan Idhan Lubis telah diturunkan dari Semeru

Sebelum Desember 2012 lalu, plakat in memoriam Soe Hok Gie & Idhan Lubis tertanam dengan kokoh nya di puncak Mahameru gunung Semeru. Plakat yang telah menjadi daya tarik para pendaki untuk menapaki puncak Mahameru itu kini telah dilepas dan diturunkan pada 16 Desember 2012 dan disimpan dengan rapih di Pusat Latihan Indonesian Green Ranger, Cibodas, Jawa Barat.

Plakat masih berada di Mahameru
Plakat telah disimpan di Indonesian Green Ranger

" Kita telah banyak berdosa terhadap alam Semeru, dengan plakat ini dilepas semoga alam Semeru bisa bersih dan menyadarkan pendaki Semeru untuk tidak meninggalkan sesuatu selain jejak dan tidak mengambil sesuatu selain foto "

Idhat Lubis | Indonesian Green Ranger
Idhat Lubis

Soe Hok Gie & Idhan Lubis mereka adalah legenda, inspirasi untuk para penjelajah alam khususnya para pendaki gunung di Indonesia

LATGAB Panjat Tebing IGR 2018

Presidium Dewan Pengurus Indonesia Green Ranger akan mengadakan Latihan Gabungan yang ditujukan khusus untuk anggota dari berbagai angkatan. Dalam hal ini Ketua Bidang I yang mengurusi Organsasi, Kaderisasi dan Keanggotaan serta Ketua Bidang V yang bertugas pada Minat Khusus anggota, … Read More

Gempa Lombok Hancurkan Beberapa Bangunan di Denpasar

Jakarta, Igreeac.org, Gempa berkekuatan 7.0 Skala Richter yang terjadi pada Minggu (05/08/2018) juga dirasakan di kota Denpasar, Bali. Daniel Herry, reporter Igreeac.org yang berdomisili di Denpasar mengungkapkan hal ini. Saat itu ia sedang berada di rumah dan merasakan goncangan begitu … Read More

Gempa 7.0 SR di Lombok Berpotensi Tsunami

Jakarta, Igreeac.org, Gempa berkekuatan 7.0 Skala Richter kembali mengguncang Kawasan Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Minggu (05/08/2018). Dikutip dari twitter resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, kekuatan gempa Lombok yang mencapai 7 SR dapat berpotensi memunculkan gelombang laut … Read More

Korban Gempa 6,4 SR bertambah 10 orang meninggal.

Gempa dengan kekuatan 6,4 SR mengguncang wilayah Lombok, Bali dan Sumbawa pada Minggu (29/7/2018) pukul 05.47 WIB telah menimbulkan korban jiwa dan kerusakan fisik. Gempa susulan juga masih terus berlangsung. Hingga pukul 09.20 WIB, BMKG mencatat telah terjadi 66 kali … Read More

Gunung Agung erupsi setinggi 2000 meter

GUNUNG AGUNG KEMBALI ERUPSI SETINGGI 2000 METER KARANGASEM – Gunung Agung kembali alami erupsi dengan tinggi kolom abu sekitar 2000 meter di atas puncak, Senin (2/7) pukul 21.04 Wita. Secara visual teramatikolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke … Read More