Catatan Norman Edwin [ Melacak Jejak di Lintasan Gila ]

Operasi Pencarian di Gunung Pangrango
Melacak Jejak di Lintasan "Gila"

Catatan dari Norman Edwin yang dituangkan di Tabloid Mutiara Edisi 334 21 November – 4 Desember 1984.


Kabar mengejutkan itu datang ketika hari masih pagi. Priyo teman lama, menelepon saya di kantor. "Man, tenaga Anda dibutuhkan. Ada anak hilang di Gunung Gede," Ujarnya terburu-buru. Dengan lancar Priyo menceritakan informasi yang diperolehnya dari kumandang radio amatir. Dua puluh empat mahasiswa perminyakan FTM Universitas Trisakti (Jakarta) mendaki Gunung Gede. Lima belas orang kembali turun, tetapi sembilan orang tidak tersiar kabarnya.

Terus terang, tadinya saya agak segan menanggapi berita ini. Masalahnya, banyak laporan mengenai kasus serupa yang cuma menyesatkan saja. Saya teringat kasus hilangnya Wawang, remaja berumur 19 tahun dari Cianjur. Puluhan orang terlibat dalam pencahariannya di Gunung Gede selama satu bulan. Ternyata, pada saat yang sama Wawang sedang bersenang-senang di Jakarta. Rupanya, Wawang yang kesal lantaran dimarahi kakaknya ketika sedang mendaki bersama di Gunung Gede, diam-diam turun dan langsung pergi ke Jakarta.
Rasa segan didukung kenyataan bahwa mereka baru hilang satu hari. Pernah dulu, sekelompok mahasiswa tiba-tiba muncul di Cisarua setelah dinyatakan hilang selama tiga hari di Gunung Pangrango. Padahal, puluhan orang saat itu tengah sibuk merambah hutan untuk mencari mereka.

Rasa segan itu tiba-tiba berubah menjadi kekhawatiran ketika saya tiba di Cibodas malam itu. Tujuh orang yang hilang, hari itu dilaporkan sudah turun di Situ Gunung. Berarti masih dua orang lagi yang belum kembali. Menurut ketujuh mahasiswa yang selamat itu, dua teman merekaterpisah dipuncak gunung. Bekal mereka minim sekali, bahkan sama sekali tidak punya baju penghangat dan pelindung hujan. Padahal, hujan sekarang sedang musimnya, sehingga udara di gunung bertambah dingin.

Kini jelas sudah masalahnya. Rupanya mereka merencanakan mendaki Gunung Gede dari Cibodas. Hingga di Kandang Badak, seluruh anggota pendaki masih utuh, dua puluh empat orang. Sembilan orang kemudian berangkat lebih dahulu meneruskan pendakiannya. Mereka tidak sadar, bahwa mereka telah salah memilih jalan setapak dan melanjutkan pendakiannya ke Gunung Pangrango.

Lima belas anggota pendaki yang lain, sesuai dengan rencana, berhasil mencapai puncak Gunung Gede. Akan tetapi, rencana mereka untuk turun lewat rute Gunung Putri dibatalkan. Mereka kembali turun lewat rute yang sama ketika naik.

Sementara itu, sembilan orang yang "terlempar" ke Gunung Pangrango tercerai berai menjadi tiga kelompok. Husin Baridwan, Handoko Soegito (Hengky), dan Robby Bentas Dirgantoro tiba terlebih dahulu di puncak Gunung Pangrango. Husin kemudian kembali turun untuk menyusul rekan-rekannya yang belum tiba.

Hengky dan Robby memutuskan untuk mencoba menuruni satu lintasan yang mengarah ke barat daya (rute Gunung Masigit - Situ Gunung - Cisaat). "Kalau dalam setengah jam kamu nggak kembali ke puncak, berarti jalanya betul," pesan mereka kepada Husin. Rupanya mereka mengira bahwa yang didaki masih Gunung Gede, sehingga sesuai dengan rencana semula mereka mencari jalan rute Gunung Gede - Gunung Putri.

Ketika Husin dan rekan-rekannya yang lain tiba di puncak, mereka tidak melihat lagi Hengky dan Robby. Mereka memutuskan untuk menuruni satu lintasan ke arah Lembah Mandalawangi. Di sini mereka masih sempat berfoto-foto dan mengambil air di ujung selatan lembah tersebut. Kemudian, mereka naik kembali ke puncak dan mengikuti lintasan yang tadi dipilih oleh Hengky dan Robby.

"Ketika selesai menuruni enam punggungan gunung, kami tiba-tiba mendengar teriakan minta tolong di sebelah kiri," cerita Husin kemudian. Mereka segera menyahuti teriakan tersebut, tetapi tak ada balasan lagi. Karena ragu-ragu, akhirnya mereka memutuskan untuk terus turun dan mengabaikan teriakan minta tolong tersebut.

Ketujuh mahasiswa itu tidak sadar, bahwa mereka lintasan yang jarang sekali dipakai. Lintasan di situ sangat buruk, jalan setapaknya sering menghilang tertutup semak. Biasanya, hanya pendaki-pendaki "gila" dan berpengalaman saja yang memakai rute tersebut. Betul saja, ketujuh mahasiswa yang miskin pengalaman mendaki gunung ini kalang kabut lantaran tak bisa melacak jalan setapak. Untunglah, akhirnya, setelah bersusah payah dan menginap satu malam di jalan, mereka berhasil juga mencapai Situ Gunung.

Malam itu, saya ditunjuk menjadi koordinator pencarian kedua mahasiswa yang masih belum ditemukan itu. Istilah kerennya, menjadi koordinator missi SAR alias SMC (SAR Mission Coordinator). Kepada rekan-rekan pencinta alam dan orari (organisasi amatir radio Indonesia), saya katakan bahwa untuk sementara saya menerima penunjukan tersebut sambil menunggu pihak yang berwenang menangani masalah ini.

Malam itu juga, regu-regu pencari diberangkatkan dan mendaki Gunung Pangrango. Rekan-rekan Orari sibuk mengkoordinasikan pemakaian komunikasi radio. Dipimpin Hasan Koesoema (YB Ǿ AH) dan Moeharto (YC Ǿ EEP), Orari memang berperan besar melancarkan koordinasi operasi SAR ini.
Besok paginya, tiba-tiba terdengar suara keras dari radio. “Hengky sudah ditemukan, tetapi sudah meninggal,” terdengar kabar bersuara gemetar. Almarhum Hengky ditemukan terlentang di atas tumpukan sampah hanya sepuluh meter sebelah barat laut triangulasi puncak Gunung Pangrango. “Saya gemetar dan Cuma bisa berteriak ketika melihat Hengky,” cerita Mulyono anggota PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam) yang melihatnya pertama kali. Dua orang rekan Hengky yang kebetulan sedang berada di posko (pos komando) langsung pingsan dan digotong ketika mendengar berita sedih itu.
Helikopter SAR AURI dari Semplak, Bogor, datang agak terlambat. Udara di sekitar Gunung Pangrango yang pagi tadi cerah sekali, kini sudah dikurung oleh awan tebal. Kerucut Gunung Pangrango yang indah itu tak terlihat lagi. Kapten Hastanto, Pilot helicopter, terpaksa mendaratkan pesawat dan mematikan mesinnya di lapangan parker Cibodas untuk menunggu udara cerah. Saya mencoba menjelaskan posisi Lembah Mandalawangi kepada Kapten Hastanto. Di sini rencannya kami akan menjemput jenazah Hengky.

Kira-kira pukul 15.00, udara sekitar Gunung Pangrango sedikit membaik. Awan tebal dan kabut memang masih tampak banyak, tetapi Kapten Hastanto akan mencoba menerbangkan pesawatnya dan mendekati Lembah Mandalawangi. Saya duduk dibelakang pilot, bertugas menunjuk posisi lembah itu.
Bentangan hutan tampak di bawah kami. Berkali-kali saya sudah mendaki kedua gunung dibawah itu, tetapi baru sekali ini saya “melompati”nya dari atas. Pesawat meloloskan diri dari sergapan awan dan menyuruk di “kolong”nya. Kerucut Gunung Pangrango tiba-tiba tampak di sebelah kanan.
Kapten Hastanto mencoba menambah ketinggian dengan memutarkan pesawatnya menjauhi Gunung Pangrango. Tetapi ketika pesawat mendekati kembali gunung itu, awan tebal sekali mengurungnya kembali sehingga tak tampak lagi. Kapten Hastanto kini mengelilingi Gunung Gede dan Pangrango, mencoba mencari peluang untuk mendekati Lembah Mandalawangi. Tetapi, “wah, kita tak mungkin menembusnya. Terpaksa kita kembali dik,” ujar Kapten Hastanto.

Kini diputuskan agar jenazah Hengky dibawa saja lewat darat. Saya mengusulkan agar evakuasi itu dilakukan oleh penduduk setempat. Masalahnya, penduduk jauh lebih kuat dan sudah terbiasa turun dan naik gunung. Lagi pula, tenaga-tenaga yang ada di atas masih diperlukan untuk mencari Robby. Sebanyak 14 orang penduduk setempat diberangkatkan malam itu juga. Beberapa di antara mereka sudah pengalaman menurunkan pendaki yang tewas di Gunung Gede.

Pukul 22.30 regu evakuasi mulai menurunkan Hengky almarhum. Saya setengah tidak sadar, karena menahan kantuk, ketika pukul 04.00 jenazah Hengky tiba di Cibodas. Suara sirene ambulans segera memecah kesunyian subuh itu. Kegaduhan membangunkan orang-orang di sekitar. Dan… bermunculanlah “pahlawan-pahlawan” di sekitar ambulans. Mereka membawa jenazah itu ke Puskesmas Cimacan untuk dibersihkan.

Catatan Norman Edwin


Beringin di Puncak Gunung


Operasi pencarian dilanjutkan dengan semangat tinggi. Banyak masalah yang memusingkan. Pencarian dengan informasi paranormal misalnya, kadang-kadang membuat darah melambung tinggi. Bagaimana mungkin pohon beringin dan bambu kuning bisa hidup di puncak Gunung Pangrango? Keributan kecil sempat pula meledak, ketika terpergoki suatu koordinasi tersendiri tanpa sepengetahuan kami.

Hari keempat operasi pencarian, jejak-jejak Robby mulai ditemukan. Satu regu yang dipimpin oleh Ramono (Mapala UI) menemukan jejak-jejak yang menurun. “Jejaknya nggak begitu jelas, tapi gue yakin ini jejak nggak lebih dari dua orang,” tutur Adi Seno, pengasuh Mutiara Remaja “Kaonak” dan anggotan Mapala UI, yang ikut dalam regu itu lewat handy talky.

Jejak itu ditemukan di sebelah kiri jalan setapak Pangrango – Gunung Masigit – Situ Gunung. Jadi, persis dari arah suara teriakan minta tolong yang didengar oleh ketujuh mahasiswa yang selamat itu. Jejak itu terus menurun ke lembah sempit di bawah. Ketika jejak itu menghilang, regu pelacak segera menyusuri sebuah kali kecil dan menemukan satu kotak teh “Sosro” dan tiga buah sedotannya. Di bagian hilir, ditemukan lagi sebuah sedotan.

Menurut keterangan, rombongan mahasiswa yang mendaki gunung itu memang membawa sejumlah besar teh kotak “Sosro”. Semua anggota mendapat bagian. Jejak terus ditelusuri, tetapi karena hari sudah hampir malam, seluruh anggota regu pelacak kembali ke kamp di Puncak Pangrango.
Besoknya pelacakan ala Winetou dilanjutkan dengan perasaan yang berdebar-debar. Jejak masih berlanjut dan mengikuti kali kecil. “Pola jejak tetap sama seperti kemarin, yaitu menyusui kali. Kalau kali menurun curam, jejak tampak menghindar dan melingkarinya, lalu kembali ke kali tersebut,” lapor Adi, penemu jejak itu kemarin.

Jejak terus dilacak hingga dua hari kemudian. Masih belum mendapatkan hasil yang positif. Tanpa kenal lelah, regu pelacak terus menelusuri jejak-jejak itu. Kembali ditemukan bekas-bekas manusia, yaitu sebaran batang korek api. “Kayaknya ada orang yang berusaha menyalakan korek api,” demikian laporan dari atas. Tidak jauh dari situ, ditemukan sebatang rokok “Djie Sam Soe” yang masih utuh.
Teman-teman Robby yang selamat memberitahukan bahwa memang Hengky membawa rokok “Djie Sam Soe”. Kemungkinan Robby memperoleh pula rokok “Djie Sam Soe” dari almarhum Hengky. Robby sendiri, menurut pengakuan keluarganya memang seorang perokok.

Pelacakan dilanjutkan. Jejak kembali ditemukan tidak jauh dari bivak regu pelacak semalam. Jejak itu kembali mengikuti kali kecil, hingga akhirnya tiba disebuah air terjun yang diperkirakan tingginya 40 meter. Jejak kelihatan mengarah ke atas lagi, menjauhi air terjun itu. Ketika diikuti, ternyata jejak itu kembali ke tempat ditemukannya sebaran batang korek api dan rokok “Djie Sam Soe”.

Hari sudah sore, pelacakan dihentikan. Sebagian anggota pelacak terpaksa kembali ke kamp dan turun. Mereka sudah seminggu berada di atas. Kini mereka harus kembali kuliah. Saya juga memutuskan untuk mengakhiri tugas sebagai coordinator missi SAR. Pekerjaan di kantor yang sudah seminggu saya tinggalkan mungkin masih bisa ditanggulangi oleh rekan yang lain, tetapi meninggalkan istri sendirian menanti saat-saat kelahiran anak pertama menjadi beban pikiran yang terus menggangu selama operasi pencarian ini.

Koordinasi tahap pertama memang berakhir hari itu. Universitas Trisakti yang menjadi pensuplai logistik, hari itu juga memutuskan untuk mengakhiri bantuannya. Anggota-anggota Orari Jakarta yang terus menerus membantu komunikasi radio, juga harus kembali ke pekerjaannya masing-masing. Suatu koordinasi SAR memang punya batasan waktu. Masalahnya, semua unsur yang mendukung koordinasi ini adalah tenaga sukarela yang telah meninggalkan pekerjaan dan kuliahnya demi rasa kemanusiaan belaka. Sangat disesalkan, kenapa badan yang memang “digaji untuk tugas seperti ini” tidak satupun menampakkan batang hidungnya.

Koordinasi tahap kedua cepat menggantikan kami. Unsurnya kini terdiri dari Pencinta Alam dan Orari Cianjur. Edi Bagong dari Wanadri bertindak sebagai koordinator missi SAR. Mereka melanjutkan pelacakan yang telah dilakukan oleh regu-regu dari koordinasi pertama. Dari Jakarta, saya mendengar bahwa mereka berhasil menemukan ransel biru. Ransel itu terletak rapih bersama beberapa baju yang tampaknya sedang dijemur. Beberapa hari kemudian, ditemukan kembali sebuah topi warna putih. Ternyata barang-barang itu milik Hengky. Bagaimana nasib Robby, hingga catatan ini selesai belum ada petunjuk jelas.

Catatan Norman Edwin
Mutiara 334 21 November – 4 Desember 1984


Bagi yang ingin download format PDF nya yang berisikan catatan ini dan ada juga tambahan mengenai cerita Pelajaran dari Gunung Slamet, bisa download disini "Catatan Norman Edwin ["Melacak Jejak di Lintasan Gila"]