Canyoning, Wisata Alternatif di Lombok

Air Terjun Tiu Ngumbak setinggi lima puluh meter jadi tantangan terakhir canyoning di Lombok. (Foto: Alfan Noviar)

Mendengar nama Lombok, pasti banyak orang berpikir soal pantai, gili dan Gunung Rinjani. Tapi kedatangan saya di bumi seribu masjid ini bukan untuk itu. Ya Kalau pun iya, itu hanya bonus saja. Sejawat saya di kantor banyak cerita soal aktivitas luar ruang yang tergolong baru di Indonesia. Canyoning atau canyoneering, olahraga alam bebas yang berbasis penelusuran sungai, ngarai/lembah, dan air terjun. Buat saya pribadi ini hal baru yang patut di coba.

Kegiatan ini memadukan berbagai teknik dalam olahraga alam bebas seperti pemanjatan (climbing), turun tebing (rappelling), berenang (swimming), dan lompat tebing (cliff jumping). Di Lombok saya jumpa anak-anak muda yang menjual aktivitas sebagai alternatif wisata Lombok. Supii Lim atau pii, anak muda yang sudah mengantongi sertifikat internasional untuk olahraga ini jadi leader. Ada juga Balung dan Kojar, Rope Master yang tugasnya pasti berhubungan dengan tali-temali. Nah tiga anak muda ini dahulunya jadi fasilitator Canyoning di Git-git Bali. Agung, Redaktur Koran Tempo yang mengenalkan saya kepada mereka. Agung lebih dulu merasakan nikmatnya canyoning di Bali.

Singkat cerita menurut Pii, canyoning awalnya merupakan aktifitas yang lebih ditujukan untuk penelitian seperti hidrologi, klimatologi, ekologi, dan berbagai penelitian lain. Canyoning telah berkembang sejak akhir 1800-an di wilayah Eropa dan Amerika, serta semakin berkembang di wilayah Australia yang disebut sebagai surga para canyoneer (sebutan untuk pegiat canyoning).
Meski berkembang di Eropa dan Amerika, pusat dari organisasi internasional yang menyusun pedoman standar keselamatan justru berbasis di Bali. Nama federasi ini International Canyoning Organization Professional (ICOPro), yang juga mengeluarkan sertifikasi bagi instruktur canyoning.

Selain Bali, Lombok juga memiliki lokasi menantang untuk penggemar wisata minat khusus ini. Saya berkesempatan mencoba olahraga satu ini. Karena sadar kalau canyoning bukanlah olahraga biasa, saya meminta teman-teman dari canyoning Lombok mendamping petualangan ini. Supii Liem dan kawan-kawan pemegang sertifikat instruktur dari ICOPro, jadi tak perlu khawatir dengan aktifitas ini.

Kami memulainya dari Desa Gumatar di kaki Gunung Rinjani. Desa Gumatar merupakan salah satu desa adat yang masih mempertahankan nilai-nilai tradisi suku sasak. Desa ini juga penghasil kopi robusta di Lombok Utara. Dari Desa Gumatar menuju lokasi canyoning sekitar dua puluh menit dengan motor. Usai memakai semua perlengkapan standar kita akan di ajak menelusuri sungai tiu ngumbak selama tiga jam. Air terjun setinggi lima puluh meter yang harus di turuni jadi penutup petualangan canyoning saya di Lombok Utara.